Beberapa hari ini lagi gencar-gencarnya iklan dari sebuah perusahaan rokok tentang website beasiswa dari perusahaan rokok tersebut (untuk selanjutnya kita sebut aja beasiswa rokok). Iklan itu ada di TV, koran, bahkan sampai media online. Sampai-sampai web site www.kompas.com tertutup penuh oleh iklan itu. Setelah kita tutup iklan itu, baru berita-berita di website tersebut bisa ditelusuri. Sedemikian hebatnya iklan itu (tepatnya perusahaan rokok itu). Capitalist rules!
Ada sedikit perasaan gembira dengan iklan itu karena setidaknya ada beberapa mahasiswa cerdas tapi kurang mampu bisa mendapatkan haknya yang nyaris terampas oleh kapitalisme pendidikan yaitu memperoleh pendidikan yang layak. Tetapi di hati paling dalam lebih banyak sedihnya dibanding gembiranya.
Nah, menurut aku beasiswa ini sebenarnya sama saja dengan iklan itu. Menyesatkan dan membodohi publik. Ini ibaratnya ada seorang mahasiswa anak petani miskin tapi sangat cerdas yang kemudian didatangi oleh bandar narkoba. “Kamu nggak usah mikirin biaya kuliah kamu. Ini ada sedikit uang dari hasil kami berjualan narkoba. Pake aja. Kamu juga nggak harus kerja di bandar narkoba kami kok. Jadi santai aja ya.” kata bandar narkoba itu. Sebagai orang yang butuh uang untuk melanjutkan pendidikan, tawaran ini tentu saja sulit ditolak oleh mahasiswa tersebut. Kecuali orang yang benar-benar memegang teguh prinsipnya.
Mahasiswa miskin itu akhirnya lulus, bekerja di perusahaan terkenal dan menjadi orang besar. Ini yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh perusahaan rokok itu. Setiap ada masalah dengan perusahaan rokok tersebut apakah masalah ekspansi perusahaan, kendala perijinan, tersandung masalah hukum, diprotes YLKI, kekurangan modal, dsb perusahaan rokok itu tinggal mengontak para mantan penerima beasiswa rokok. Tentu ada perasaan hutang budi di dalam hati mantan penerima beasiswa rokok. Ini yang akan dieksploitasi perusahaan rokok itu. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang telah dimiliki, mantan penerima beasiswa rokok akan ‘membersihkan jalan’ bagi perusahaan rokok tersebut. Apalagi ada komunitas penerima beasiswa rokok ini. Semakin mudah mendapatkan orang yang cocok untuk ‘membersihkan jalan’ sesuai dengan masalah yang dihadapi dan semakin banyak dukungan dari mantan penerima beasiswa rokok lainnya yang tergabung dalam komunitas tersebut.
Anehnya, banyak Perguruan Tinggi baik PTN dan PTS (bahkan beberapa PTN ternama) sebagai penerima beasiswa tersebut. Apakah sedemikian lemahnya posisi tawar PTN dan PTS tersebut sehingga mereka tidak bisa mengajukan Syarat dan Ketentuan yang lebih ketat kepada perusahaan rokok tersebut. Misalnya saja dengan menghapuskan brand rokok itu dari program beasiswa yang diberikan. Sebenarnya bisa saja kan program beasiswanya diganti dengan misalnya Beasiswa Asosiasi Juragan Tembakau :p
Sebagai pembanding, MTV perusahaan milik kapitalis US yang liberal saja masih mempunyai kebijakan untuk tidak menerima iklan rokok. Masa PTN dan PTS kita tidak berpikir sampai kesitu? Jangan-jangan sebentar lagi bermunculan beasiswa rokok lainnya. Beasiswa Benang Jahit, Beasiswa Gudang Pasir, Beasiswa 123, Beasiswa W Mild, Beasiswa SiBiru, Beasiswa Marailoro, Beasiswa Ganjhill, Beasiswa Parkir Mall, dll. Walah… Ini beasiswa atau iklan rokok? Semakin susah dibedakan antara dermawan dengan pengiklan.
posting diambil dari blognya Yulianto
via Email
















0 comments:
Post a Comment